Posted on

STOLA TERBARU GPIB

IMG_20160516_171756Persidangan Sinode XX GPIB tahun 2015 telah berlangsung pada tanggal 26 – 31 Oktober 2015 di hotel Swiss Bell Balikpapan Kalimantan Timur. Selanjutnya menjadi tugas Majelis Sinode XX menerbitkan hasil Persidangan Sinode tahun 2015 tersebut ke dalam buku-buku. Majelis Sinode XX telah menerbitkan 5 buku untuk mendokumentasikan hasil persidangan tersebut. Kelima buku tersebut diantaranya;

1. Buku I.   : tentang Perangkat Teologi dengan lampirannya yaitu Naskah Pemahaman Iman dan Naskah Aktq Gereja.

2. Buku II.   : tentang Perangkat Teologi dengan lampirannya yaitu; Naskah Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis.

3. Buku III. : tentang PKUPPG dan Grand Design PPSDI dengan lampirannya Naskah PKUPPG dan Naskah Grand Design PPSDI.

4. Buku IV.  : tentang Tata Gereja dengan lampirannya Naskah Tata Gereja.

5. Buku V.   : Seluruh hasil Persidangan Sinode XX yaitu Arahan Teologis dan Ketetapan-ketetapan (termasuk lampiran-lampitannya)

STOLA TERBARU GPIB

Terkait dengan penggunaan dan model stola terbaru GPIB termuat dalam buku II pada bagian Pakaian Liturgis di halaman 180 – 181. Pada buku II tersebut dijelaskan bahwa Stola (bahasa Yunani: kain penutup) adalah sepotong kain yqng agak panjang seperti selendang dikalungkan di leher. Stola bukan perhiasan melainkan bagian dari pakaian liturgis yang bersifat fungsional.

Setiap presbiter (diaken, penatua dan pendeta) yang sedang bertugas sebagai pemberita firman, maupun pelayan liturgi mesti menggunakan stola. Toga dan baniangpun harus dipakai dengan stola. Penggunaan stola oleh presbiter yang sedang bertugas mau menjelaskan bahwa ia sedang diutus Tuhan untuk suatu pelayanan dengan kewibawaan yang bukan  berasal dari dir8nya sendiri.

Stola memiliki lebar kurang lebih 12 cm dan panjangnya sampai ke lutut si pemakai setelah dikalungkan atau menyesuaikan kebutuhan pemakai. Warna stola disesuaikan dengan warna liturgis Tahun Gereja seperti halnya kain mimbar.

Meskipun stola dan loga tahun gereja bersifat oikumenis, namun GPIB perlu merancang stola dengan kekhasannya sendiri. Salah satu kekhasan GPIB terkandung dalam motonya. Karena itu, diusulkan agar pada stola ditempatkan, bukan saja gambar tahun gereja, tetapi juga moto GPIB. Jika selama ini, gambar tahun gereja ditempatkan di bagian bawah ujung stola maka diusulkan sekarang agar kedua gambar tersebut ditempatkan di bagian atas tepat di dada: moto GPIB di sebelah kanan dan logo tahun gereja disebelah kiri. Berikut contohnya:

 IMG_20160516_171840IMG_20160516_171830IMG_20160516_171836IMG_20160517_002108IMG_20160517_002103

Kami telah melayani pembuatan berbagai model stola serta perlengkapan gerejawi lainnya. Secara khusus kami juga melayani pembuatan stola terbaru GPIB sesuai keputusan Persidangan Sinode XX GPIB. Untuk pemesanan hubungi;

1. Pin BB           : 5CDB7CD1

2. Phone/WA.   : +62 81 286 082 999

3. Facebook: Baju Pendeta Collar Shirt

4. Email: collarshirt@yahoo.com

Salam damai sejahtera!

Posted on

Baniang GPIB Terbaru

IMG_20160413_064221

Majelis sinode GPIB melalui Unit Kerja Penerbitan (UKP) menerbitkan beberapa buku yang merupakan hasil Persidangan Sinode XX tahun 2015 di Balikpapan.

Buku yang ditandatangani Ketua Umum Majelis Sinode GPIB Pdt Paulus Kariso Rumambi M.Si dan Sekretaris Umum Pdt Marlene Joseph M.Th ini terdiri dari empat buku, yakni Buku I Pemahaman Iman dan Akta Gereja, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis, Buku III PKUPPG & Grand Design PPSDI dan Buku IV Tata gereja.

“Tugas Majelis Sinode XX menerbitkan dokumentasi hasil Persidangan Sinode XX tahun 2015 kedalam buku-buku,” kata Pdt Paulus Kariso Rumambi. Harapannya, buku-buku ini bisa sampai ke jemaat dan dapat memahami segala hal yang telah ditetapkan untuki dilaksanakan.

Dalam Buku I dengan sampul berwarna merah cukup banyak yang haraus diketahui sebagai pelayan di GPIB, antara lain diatur soal Perkawinan Beda Agama, alat Kelamin Buatan, Homoseks, Biseks, Poligami dan Penjualan Organ Tubuh.

Di Buku II dengan sampul berwarna kuning Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis diatur antara lain soal Tata ibadah Hari Minggu, tata ibadah persekutuan doa, hingga tata ibadah Pelkat-pelkat. Di buku ini juga diatur soal pemakaian Tata Busana Pakaian Liturgis seperti Toga, Baniang, Stola dan perangkat ibadah lainnya.

Sebagaimana diketahui Toga, Baniang, Stola dan perangkat ibadah lainnya saat ini diperbaharui. Pelayan Tuhan dalam hal ini Diaken, Penatua dan Pendeta ada yang sudah mengenakan pakaian liturgis yang baru. Untuk Toga diatas pundak ada tiga kancing besar sebagai simbol Tritunggal dan kancing depan 12 kancing simbol 12 murid.

Buku III dengan sampul hijau PPKKUPG & Grand Design PPSDI berisikan ajakan Membangun dan Mengembangkan Gereja Misioner yang didasarkan pada potensi internal dan peluang eksternal. Di buku ini juga diaitur sola pendekatan grand design PPSDI GPIB yang berbasiskan kompetensi. Dan tak kalah menariknya adalah buku setebal 163 halaman ini juga mengurai secara jelas apa itu Iman GPIB.

Buku IV Tata Gereja dengan sampul biru berisikan 18 Peraturan Pokok antara Peraturan tentang Jemaat, Persidangan Sinode, Presbiter dan Peraturan tentang Musyawarah Pelayanan hingga Pelayanan Kategorial.

BANIANG TERBARU

Salah satu keputusan Persidanagan Sinode  XX tahun 2015 di Balikpapan adalah terkait dengan pakaian liturgis. Ada pembaharuan ketentuan penggunaan pakaian liturgis, baik itu toga, stola dan baniang. Baniang yang dipakai adalah baniang dengan kombinasi kerah clerical collar tujuannya untuk tetap memberikan makna segi oikumenis dan sebagai identitas bagi pendeta dalam tugas pelayanannya di masyarakat.

Kami melayani penjahitan baniang yang dimaksud sesuai ukuran yang dikehendaki. Kami memberikan harga khusus bagi para para pelayan Tuhan, sekalipun demikian kami tetap menggunakan kain dan jahitan standar jas.

Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan silakan hubungi kami di:

Pin BB  : 5CDB7CD1, 5EA73676

HP/WA : 081286082999, 08882825608

Facebook: www.facebook.com/Rusi.Widamayanti

P_20160412_170651_1P_20160412_170725_1P_20160412_170907_1

Posted on

Mengapa Seorang Pendeta Memakai Baju Ber-Collar?

12687863_902483899865878_2810889721106892955_n
Baju menjadi sesuatu yang sangat penting bagi orang yang memakainya. Fungsi utama baju pada mulanya untuk menutup aurat manusia supaya tidak malu (ingat cerita kejatuhan manusia dalam dosa). Dalam perkembangannya baju sebagai sarana untuk melindungi tubuh dari cuaca yang ekstrem. Pada masyarakat  yang semakin maju baju telah menjadi mode yang akan menambah menarik penampilan seseorang. Bahkan baju disejajarkan dengan harga diri seseorang, baju menunjukkan identitas si pemakainya.
Orang Jawa punya ungkapan “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”. artinya bahwa harga diri dan kehormatan seseorang bisa dinilai dari cara dia bertutur kata dan berpakaian. Orang yang memakai baju putih dan celana pendek merah diidentifikasi sebagai anak SD yang masih kanak-kanak, orang yang memakai baju compang-camping dan lusuh diidentifikasi sebagai pengemis atau gelandangan yang akan dipandang sebelah mata, orang yang memakai baju loreng diidentifikasi sebagai anggota militer yang disegani, seorang yang memakai baju collar diidentifikasi sebagai pendeta yang dihormati karena jalan hidup yang dipilih untuk melayani Tuhan, dll.
Seorang pendeta sangat mudah dikenali ketika dia memakai jubah hitam atau putih dalam suatu ibadah. Jika diluar ibadah atau dilapangan pelayanan seorang pendeta akan mudah dikenali ketika memakai baju pendeta atau collar shirt. Baju pendeta memiliki istilah yang berbeda-beda disetiap daerah. Orang Sumatra menyebut dengan istilah parhobas, orang sulawesi menyebut dengan istilah toga mini, orang kalimantan menyebut baniang, dll. Namun secara umum baju pendeta dikenal atau disebut sebagai collar shirt atau clerical shirt, yang menyampaikan pesan bahwa baju itu dipakai oleh kaum klerus atau kaum agamawan, secara khusus dipakai oleh pendeta. Collar shirt atau baju pendeta adalah baju yang umum dikenakan oleh seorang pendeta atau imam tertahbis. Dimana baju tersebut pada krah atau lehernya terdapat garis putih/band terbuat dari kain atau plastik yang bisa dilepas pakai.
Sejak kapan kaum klerus atau agamawan/pendeta memakai pakaian khusus ini tidak banyak diketahui. Yang pasti bahwa pakaian tersebut sudah dikenal sejak abad pertengahan, bahkan masing-masing denominasi mempunyai tradisinya masing-masing. Ada baju collar menurut tradisi Ortodok Timur, tradisi Katholik, tradisi Lutheran, tradisi Metodhist, dll. Di Indonesia, ketika seseorang memakai baju collar maka si pemakai diidentifikasi sebagai seorang pendeta. Pemakai baju collar di Indonesia pada umumnya adalah seorang pendeta prostestan, sekalipun pada mulanya lahir dan lebih dahulu dipakai oleh pastor Katholik.
Para pendeta ketika melakukan perkunjungan pastoral ataupun pelayanan di luar gedung gereja lebih suka memakai baju collar, disamping praktis juga lebih nyaman dan adem, tidak seperti ketika memakai jubah. Hanya saja banyak pendeta yang tidak mengerti atau memahami mengapa mereka memakai baju yang ber-collar. Jika si pemakai saja tidak mengerti apa maknanya apalagi umat? Setidaknya, sebelum kita memakainya sebagai busana khusus pendeta kita memahami terlebih dahulu supaya ketika ada umat yang bertanya kita bisa menjawabnya dengan mantap. Beberapa hal yang mungkin bisa memberi pencerahan kepada kita mengapa ada garis putih di baju yang dipakai seorang pendeta; diantaranya:
1) Baju ber-collar sebagai simbol atau pengakuan bahwa sekalipun manusia pembawa berita Injil itu berdosa (digambarkan dengan memakai pakaian hitam) namun mulut mereka dipakai Allah, pada bagian leher ada warna putih punya makna bahwa lidah mereka dipakai Allah untuk menyampaikan firmanNya yang suci.
2) Baju ber-collar merupakan tanda konsekrasi imamat kepada Tuhan. Sebagaimana cincin kawin menunjukkan kekhasan suami isteri dan menandakan persatuan di antara mereka, maka collar menunjukkan jati diri para pendeta sekaligus menunjukkan kedekatan mereka dengan Allah melalui penyerahan diri sendiri kepada panggilan tahbisan yang telah mereka terima.
3) Dengan mengenakan busana klerus dan dengan tidak memiliki pakaian berlebihan, pendeta menunjukkan ketaatan meneladani Yesus dalam kemiskinan material. Seorang Imam atau pendeta tidak memilih pakaiannya sendiri– Gereja lah yang memilih baginya.
4) Baju ber-collar mengingatkan seorang pendeta untuk menjaga tutur kata dan perilakunya agar tetap pantas dan mencerminkan jatidiri sebagai seorang pelayan yang harus bersaksi bagi Tuhan Yesus.
5) Baju ber-collar menjadi pengingat seorang pendeta untuk senantiasa siap melayani bagi siapun yang membutuhkan bantuan dan pertolongannya.
Demikian beberapa hal yang dapat dipahami ketika seorang pendeta mengenakan baju collar. Karena itu jika anda mengenakan baju ber-collar maka jagalah seluruh kata dan perbuatan anda, karena jati diri anda mencerminkan seorang pelayan yang membawa nama Kristus Yesus. (yaw)
Salam damai sejahtera.
Kontak kami di:
Pin BB      : 5CDB7CD1, 5EA73676
WA/Line   : +62 81 286 082 999, +62 888 282 5608
Facebook : https://www.facebook.com/Rusi.Widamayanti/
Instagram: @collarshirt
Twitter     : @collar_shirt
Path          : Collar Shirt
E-Mail      : collarshirt@yahoo.com, bajupendeta@gmail.com
Berikut koleksi baju collar (Collar Shirt) yang diproduksi oleh www.bajupendeta.com.
Posted on

Rabu Abu dan Masa Pra-Paskah

Dalam agama kristen tradisi barat (termasuk Katolik Roma dan Protestan),  Rabu Abu adalah hari pertama masa Pra-Paskah.  Ini terjadi pada hari Rabu, 40 hari sebelum Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu atau 44 hari (termasuk Minggu) sebelum  hari  Jumat Agung.

Pada hari ini umat yang datang ke Gereja dahinya diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuno di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (misalnya seperti dalam Kitab Ester 4:1, 3). Dalam Mazmur 102:10 penyesalan juga digambarkan dengan “memakan abu”: “Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan.” Biasanya pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan, “Bertobatlah dan percayalah pada Injil.”

Pada abad ke-4, Paskah dihitung sejak Jumat Agung,  sehingga akhir masa Pra-Paskah adalah Kamis Putih. Awal masa  Pra-Paskah ditentukan dengan menghitung mundur sebanyak 40 hari tanpa memperhitungkan hari Minggu. Namun Gereja dan umat Kristen pada abad tersebutmerayakan awal masa Pra-Paskah tetap pada hari Minggu Pra-Paskah pertama,  sehingga tidak genap 40  hari tetapi  36 hari. Baru pada abad ke-6, masa Pra-Paskah dimulai sejak hari Rabu (baru disebut sebagai “Rabu Abu” pada abad  ke-13. Ingat: Gereja pecah menjadi Protestan dan Katolik pada abad ke-16  atau tahun 1517).

Angka 40 diambil dari beberapa kisah Alkitab, yaitu sebagai lambang masapengujian dan persiapan. 40 hari lamanya Musa berada di Gunung Sinai (Kel 34:28); 40 tahun lamanya umat Israel di padang gurun; 40 hari penduduk Niniwe berpuasa menyesali dosa (Yun 3:1-10); 40 hari Tuhan Yesus berpuasa sebelum memulai karya-Nya (Mat 4:2). Berdasarkan kisah-kisah tersebut,  Gereja  menyusun  masa persiapan Paskah.

Rabu Abu menjadi hari pertama pembukaan masa Pra-Paskah, masa di mana kita diajak untuk menghayati makna pertobatan, introspeksi diri, pendekatan diri kepada Tuhan, dan berpuasa. Penggunaan abu sebagai lambang dari kefanaan manusia (Kej 3:19; 18:27), penyesalan dan pertobatan (Yos 7:6; 2 Sam 13:19; Est 4:3;Ayub 2:12; Yes 58:5-7; Yeh 27:30; Dan 9:3; Yun 3:6; bnd. Yl 2:12-13; Mrk 1:15) berangsur-angsur baru terjadi pada akhir abad ke-11  hingga ke-13 dan terbatas sebagai ritus/ibadah.

APA ITU RABU ABU? 

Rabu Abu adalah permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa pertobatan, pemeriksaan batin dan berpantang guna mempersiapkan diri untuk Kebangkitan Kristus dan Penebusan dosa kita.

Mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening kita? Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus,  abu telah menjadi tanda tobat. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan  ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya,  diselubungkannya kain kabung,  lalu duduklah  ia di abu. (Yunus 3:6).  Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4C:13). Bapa Pius Parsch, dalam bukunya “The Church’s Year of Grace” menyatakan  bahwa “Rabu Abu Pertama” terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari  debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam atau diakon membubuhkan abu pada dahi kita sambil berkata: “Ingatlah, kita  ini abu dan akan kembali menjadi abu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”.

Dalam upacara kuno, orang-orang Kristen yang melakukan  dosa berat diwajibkan untuk menyatakan tobat mereka di hadapan umum. PadaHari Rabu Abu, Uskup memberkati kain kabung yang harus mereka kenakan selama empat puluh hari serta menaburi mereka dengan abu. Kemudian sementara umat mendaraskan Tujuh Mazmur Tobat, orang-orang yang berdosa berat itu diusir dari gereja, sama seperti Adam yang diusir dari Taman Eden karena ketidaktaatannya. Mereka tidak diperkenankan masuk gereja sampai Hari Kamis Putih setelah mereka memperoleh rekonsiliasi dengan bertobat sungguh-sungguh  selama empat puluh hari. Sesudah itu semua umat, baik umum maupun mereka yang baru saja memperoleh rekonsiliasi, bersama-sama mengikuti ibadah  untuk menerima abu.

Sekarang semua umat menerima abu pada Hari Rabu Abu. Yaitu sebagai tanda untuk mengingatkan kita untuk bertobat, tanda akan ketidakabadian dunia, dan tanda bahwa satu-satunya Keselamatan ialah dari Tuhan Allah kita.

APA ITU MASA PRA-PASKAH? 

Masa Prapaskah adalah masa pertumbuhan jiwa kita. Kadang-kadang jiwa kita mengalami masa-masa kering  di mana  Tuhan terasa amat jauh. Masa Prapaskah akan mengubah jiwa kita yang kering itu. Masa Prapaskah juga membantu kita untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk seperti mementingkan diri sendiri dan suka marah.

Banyak orang mengikuti retret setiap tahun. Retret itu semacam penyegaran jiwa. Kita membebaskan diri dari segala beban dan segala rutinitas sehari-hari. Tujuannya agar kita dapat  meluangkan waktu untuk memikirkan dan mendengarkan Tuhan. Kita boleh menganggap Masa Prapaskah sebagai suatu Retret Agung selama 40 hari. Yaitu saat untuk mengusir semua kekhawatiran dan ketakutan kita supaya kita dapatmemusatkan diri pada Sahabat kita dan mempererat hubungan kita dengan-Nya.  Sahabat itu, tentu saja, adalah Tuhan.  Kita dapat mempererat hubungan kita dengan-Nya dengan berbicara kepada-Nya dan mendengarkan-Nya. Cara lain yang juga baik adalah dengan  membaca bagaimana orang lain membangun persahabatan dengan Tuhan di masa silam.

Akhirnya, hanya ada dua kata untuk menyimpulkan apa itu Masa Prapaskah, yaitu: “NIAT” dan “USAHA”. Misalnya saja kita berniat untuk lebih mengasihi sesama, kita juga berniat untuk tidak lagi menyakiti hati sesama. Salah satu alasan mengapa kita gagal memenuhi niat kita itu adalah karena kita kurang berusaha. Kitab Suci mengatakan “roh memangpenurut, tetapi daging lemah”. Di sinilah peran Masa Prapaskah, yaitu membangun karakter yang kuat. Kita berusaha untuk menguasai tubuh dan pikiran kita dengan berlatih menguasai diri dalam hal-hal kecil. Oleh karena itulah kita melakukan silih selama Masa Prapaskah. Kita berpantang permen atau rokok atau pun pantang menonton program TV yang paling kita sukai. Dengan berpantang kita belajar mengendalikan diri. Jika kita telah mampu menguasai diri dalam hal-hal kecil, kita dapat meningkatkannya pada hal-hal yang lebih serius.

Berlatih menguasai diri baru sebagian dari usaha. Tidaklah cukup hanya berhenti melakukan suatu kebiasaan buruk, tetapi kita juga harus memulai suatu kebiasaan baik untuk menggantikan kebiasaan buruk kita itu. Misalnya saja membaca Kitab Suci setiap hari dan berdoa secara teratur. Jadi jangan hanya duduk diam saja, LAKUKAN SESUATU. Mulailah Hari Rabu Abu dengan menerima abu yang telah diberkati, lalu kemudian  memulai hidup baru bagi jiwa kita!

MENGAPA MASA PRAPASKAH BERLANGSUNG SELAMA 40 HARI?

 Pada awalnya, empat puluh hari masa tobat dihitung dari hari Sabtu sore menjelang Hari Minggu Prapaskah I sampai dengan peringatan PerjamuanMalam Terakhir pada hari Kamis Putih; sesudah itu dimulailah Misteri Paskah. Sekarang, Masa Prapaskah terbagi atas dua bagian. Pertama, empat hari dari Hari Rabu Abu sampai Hari Minggu Pra-paskah I. Kedua, tiga puluh enam hari sesudahnya sampai Hari Minggu Palma. Masa Prapaskah bagian kedua adalah masa Mengenang Sengsara Tuhan.

Makna empat puluh hari dapat ditelusuri dari kisah Musa yang sebagai wakil Hukum (Taurat) dan Elia yang sebagai wakil Nabi. Musa berbicara dengan Tuhan di gunung Sinai dan Elia berbicara dengan Tuhan di gunung Horeb, setelah mereka menyucikan diri dengan berpuasa selama empat puluh hari (Keluaran 24:18, IRaja-raja 19:8).  Setelah dibaptis, Tuhan Yesus mempersiapkan diri untuk tampil di hadapan umum juga dengan berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun. Di sana Ia dicobai setan dengan serangan pertamanya yaitu rasa lapar. Serangan yang sama digunakannya juga untuk mencobai kita agar kita gagal berpantang dan berpuasa dengan godaan keinginan daging. Kemudian setan berusaha membujuk Yesus untuk menjatuhkan diri-Nya agar malaikat-malaikat dari surga datang untuk menatang-Nya. Setan mencobai kita juga dengan kesombongan, padahal kesombongan sangat berlawanan dengan semangat doa dan meditasi yang dikehendaki Tuhan. Untuk ketiga kalinya Setan berusaha membujuk Yesus dengan janji akan menjadikan Yesus sebagai penguasa jagad raya. Setan mencobai kita dengan keserakahan serta ketamakan harta benda duniawi, padahal Tuhan menghendaki kita beramal kasih dan menolong sesama kita.

Selama Masa Prapaskah selayaknya kita hidup sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran. (Efesus 5:8-9).

MENGAPA KITA BERPUASA?

  1. Berpuasa mempertajam mata rohani kita – membantu kita melihat apa yang Tuhan lihat.
  2. Berpuasa berarti semakin serupa dengan Kristus, yang sering kali berpuasa.
  3. Berpuasa adalah cara yang baik guna mengingatkan kita untuk berdoa, sebagai ganti makan.
  4. Berpuasa membantu kita mengurangi berat badan dan merasa tetap bugar.
  5. Berpuasa berarti menghemat uang (membeli lebih sedikit makanan!)
  6. Berpuasa berarti menghemat waktu (melewatkan waktu makan!) di mana semua orang serba sibuk dan tidak punya waktu luang.
  7. Berpuasa membuat kita merasa bahagia (jika kita melewatkan hari puasa dengan berhasil.)
  8. Berpuasa meningkatkan rasa disiplin diri sehingga kita dapat berbuat lebih banyak kebaikan kepada sesama.

BAGAIMANA DENGAN SAUDARA? 

Sebentar lagi kita akan memasuki masa Pra-Paskah dan Paskah. Diawali dengan ibadah Ibadah Rabu Abu, pada hari Rabu tanggal 10 Pebruari  2016. Kita memasuki masa Prapaskah untuk menghayati akan kefanaan kita danmenghayati pengorbanan Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Bagaimanakahsaudara akan mengambil sikap dalam menyambut masa prapaskah tahun ini?

Kiranya Tuhan menolong kita. AMIN. (yaw – dari berbagai sumber)

Posted on

Jubah Penatua Gereja Lutheran

image

Jubah Penatua (Sintua) pada umumnya dipergunakan oleh gereja-gereja Lutheran. Bahan jubah terbuat dari kain cotton yang nyaman dipakai di daerah beriklim tropis.

image

Design jubah dengan motif ripple menambah tampilan lebih elegan.

Untuk pemesanan kontak kami di:

  1. BBM PIN: 5CDB7CD1
  2. Phone/WhatsApp/Line: +628882825608
  3. Email: collarshirt@yahoo.com
  4. Untuk pemesanan kontak kami:

 

 

Posted on

Kemeja Pendeta (Collar Shirt)

 

IMG_20160203_232941

Kami menyediakan kemeja ber-collar dengan berbagai  warna menurut kalender gerejawi. Kemeja dengan lengan panjang maupun pendek dengan berbagai ukuran ; S, M, L, XL, XXL, XXXL.

Kemeja ini terbuat dari bahan cotton/polyester bermutu, warna tidak pudar, tidak mudah kusut dan nyaman dipakai di iklim tropis.

Untuk pemesanan bisa melalui:

1. Pin BB: 5CDB7CD1

2. SMS/Phone/WhatsApp/Line: +6281286082999

3. Email: collarshirt@yahoo.com

Posted on

KAIN MIMBAR

Image Kain mimbar ditempatkan di sisi depan mimbar sebagai pengingat dan  atau penanda tahun gerejawi yang sedang berlangsung dalam suatu gereja. Warna kain mimbar disesuaikan dengan tahun gerejawi dan pada permukaannya diberi bordiran simbol gerejawi. Gloria Hasta Karya melayani pemesanan kain mimbar untuk gereja-gereja yang membutuhkan. Lebar dan panjang kain mimbar bisa dipesan sesuai ukuran mimbar gereja. Adapun ukuran standart kain mimbar yang disediakan oleh Gloria Hasta Karya 70 X 100 cm. Gloria Hasta Karya melayani pemesanan kain mimbar 1 set (5 buah bolak-balik dengan 10 simbol tahun gerejawi). untuk pemesanan kontak kami di:

  1. Pin BB: 5CDB7CD1
  2. Phone/Whatsapp/Line: +628882825608
  3. Email: collarshirt@yahoo.com

  (GHK)

Posted on

STOLA

Image Stola adalah vestimentum liturgis dari berbagai denominasi Kristen. Stola berupa sehelai selempang kain dengan bordiran, dulunya berbahan dasar sutera, panjangnya sekitar tujuh setengah sampai sembilan kaki dan selebar tiga sampai empat inci, makin ke ujung makin lebar. ETIMOLOGI DAN SEJARAH  Kata Latin stola berasal dari kata Yunani στολη (stolē), “pakaian”, arti aslinya adalah “tatanan” atau “kelengkapan”. Stola mula-mula merupakan semacam syal yang dikenakan menutupi bahu dan menjuntai di bagian depan tubuh; syal yang dikenakan kaum wanita memang sangat besar ukurannya. Setelah dialihgunakan oleh Gereja Roma sekitar abad ke-7 (stola juga telah dipergunakan oleh Gereja-Gereja lokal lain sebelumnya), bentuk stola makin lama makin menyempit dan dipenuhi hiasan karena stola dikembangkan menjadi semacam tanda kehormatan. Kini stola biasanya lebih lebar dan dapat dibuat dari berbagai jenis bahan. Ada banyak teori mengenai “leluhur” stola. Ada yang berpendapat bahwa stola berasal dari tallit (mantel sembahyang Yahudi), karena kemiripannya dengan tata cara penggunaan tallit saat ini (pemimpin ibadah Yahudi mengerudungi kepalanya dengan tallit pada saat memimpin doa) tetapi teori ini sudah tidak dipergunakan lagi sekarang. Teori yang lebih populer adalah bahwa stola berasal dari semacam kain lap liturgis yang disebut orarium dan sangat mirip dengan sudarium. Kenyataanya, di banyak tempat stola disebut orarium. Oleh karena itu stola dihubung-hubungkan dengan kain lap yang digunakan Yesus tatkala membasuh kaki murid-muridNya, dan merupakan simbol yang tepat bagi kuk Kristus, yakni kuk pelayanan. Bagaimanapun juga, “leluhur” stola yang mungkin paling dekat adalah syal jabatan yang dikenakan para pejabat Kekaisaran Romawi. Ketika kaum klerus menjadi angota badan administrasi Romawi, mereka pun menerima tanda kehormatan yang sama, yang merupakan penanda jenjang jabatan dalam hirarki kekaisaran (dan Gereja). Pelbagai konfigurasi stola (termasuk pallium atau omoforion) berasal dari penggunaan syal jabatan ini. Maksud aslinya adalah sebagai tanda pengenal seseorang dalam organisasi tertentu dan untuk untuk menunjukkan pangkat orang tersebut dalam kelompoknya, fungsi inilah yang masih diteruskan oleh stola hingga hari. Jadi, tidak seperti busana liturgis lain yang awalnya dikenakan baik oleh klerus maupun awam, stola merupakan busana yang dikhususkan untuk dikenakan oleh kelas masyarakat tertentu berdasarkan pekerjaannya.

PENGGUNAAN Katolik Roma

Dalam Gereja Katolik Roma, stola adalah vestimentum yang menandai penerimaan sakramen imamat. Stola diberikan dalam pentahbisan menjadi diakon, yang dengannya seseorang menjadi anggota klerus (kaum tertahbis). Uskup dan imam mengenakan stola dengan cara menyampirkannya pada tengkuk dan membiarkan dua ujungnya menjuntai di bagian depan, sedangkan diakon menyampirkannya pada bahu kiri dan menyilangkan kedua ujungnya di pinggul kanan. Pada masa ketika Misa Tridentina masih digunakan, para imam yang bukan uskup menyilangkan stola di dada (lihat gambar kanan bawah), tetapi bedanya dalam Misa atau upacara-upacara lain bilamana dikenakan pula kasula atau kap. Kini stola dikenakan dengan membiarkan kedua ujungnya menjuntai lurus (Petunjuk Umum Misa Romawi, 340). Pada kesempatan-kesempatan istimewa, Sri Paus mengenakan, sebagai bagian dari pakaian seragamnya, semacam stola khusus yang penuh hiasan serta diberi lambang pribadinya. Anglikan Demikian pula halnya, dalam Gereja-Gereja Komuni Anglikan, stola diberikan pada saat seseorang ditahbiskan menjadi diakon serta disampirkan pada pundak. Dalam pentahbisan imam, sang imam yang baru saja ditahbiskan tersebut menyampirkan stola pada tengkuk dengan kedua ujungnya menjuntai di depan, baik menjuntai lurus atau dengan cara tradisional yakni disilangkan. Klerus injili yang berkeberatan mengenakan stola karena alasan hati nurani, mengikuti praktik reformasi yakni mengenakan syal khotbah (preaching scarf).

Protestan

Dalam gereja-gereja Protestan, stola sangat sering dipandang sebagai lambang tahbisan dan jabatan pelayanan Firman dan Sakramen. Stola kerap diberikan oleh jemaat (kadang kala berupa stola buatan tangan atau stola yang diberi hiasan) sebagai hadiah pada saat pentahbisan atau perayaan peringatan tahbisan seseorang. Umumnya klerus protestan mengenakan stola dengan aturan yang sama dengan imam Anglikan atau imam Katolik Ritus Latin yakni disampirkan pada tengkuk dan membiarkan kedua ujungnya menjuntai pada dada (dan tidak disilangkan). Stola secara umum dikenakan oleh para petugas pelayanan yang tertahbis dalam Gereja LutheranGereja Methodis, Presbiterian, dan beberapa denominasi protestan lainnya. Dalam Gereja Lutheran Injili di Amerika (ELCA, Evangelical Lutheran Church in America), hanya para uskup dan pastor yang mengenakan stola karena hanya merekalah yang menerima tahbisan, yakni stola imam, karena dalam tradisi Lutheran jabatan uskup bukanlah suatu tahbisan tersendiri melainkan hanya suatu jabatan tertentu saja. Para petugas pelayanan diakonal ELCA (setara dengan diakon) umumnya tidak mengenakan stola, namun kadangkala mengenakan stola diakon tradisional pada saat menjalankan fungsi liturgis tradisional selaku diakon. Dalam Gereja Persatuan Methodis di Amerika Serikat (United Methodist Church), para diakon mengenakan stola dengan cara yang sama seperti diakon-diakon dalam tradisi Anglikan dan Katolik Ritus Latin. Seorang penatua yang tertahbis mengenakan stola dengan cara yang sama dengan imam-imam Anglikan dan Katolik Ritus Latin, karena jabatan penatua dalam gereja ini setara dengan jabatan imam dalam Gereja Anglikan atau Katolik.

Gereja-gereja di Indonesia

Gereja-gereja di Indonesia menggunakan stola sebagai kelengkapan pakaian ibadah khususnya bagi pejabat gerejawi yang tertahbis; penatua, pendeta, dan diaken. Ada gereja yang sudah sejak lama menggunakan stola tapi ada juga gereja yang baru saja menggunakan stola sebagai kelengkapan pakaian jabatan gerejawi. Warna stola biasanya disesuaikan dengan warna minggu liturgis dan disertakan bordiran simbol liturgi pada ujung stola.

Contoh 1 Set Stola Model Lama GPIB

Image Continue reading STOLA

Posted on

TOGA

Toga, pakaian ala Romawi kuna ini adalah sehelai kain sepanjang kira-kira enam meter (20 kaki) yang dililitkan ke sekeliling tubuh, dan umumnya dikenakan setelah mengenakan tunik. Toga terbuat dari wol, dan tunik kerap terbuat dari linen. Setelah abad ke-2 SM, toga menjadi busana khusus pria, dan hanya warga negara Romawi yang diizinkan mengenakannya. Karena menjadi busana khusus pria, maka kaum wanita mengenakan stola.

SEJARAH

Toga dalam bahasa latin adalah tego yang berarti penutup. Meskipun biasanya dikaitkan dengan bangsa Romawi, toga sebenarnya berasal dari semacam jubah yang dikenakan oleh pribumi Italia, yakni bangsa Etruskan yang hidup di Italia sejak 1200 SM. Toga merupakan busana orang-orang Romawi; sehelai mantel wol tebal yang dikenakan setelah mengenakan cawat atau celemek. Toga diyakini sudah ada sejak era Numa Pompilius, Raja Roma yang kedua. Toga ditanggalkan bila pemakainya berada di dalam ruangan, atau bila melakukan pekerjaan berat di ladang, namun toga dianggap sebagai satu-satunya busana yang pantas bila berada di luar ruangan. Hal ini terbukti dalam riwayat Cincinnatus: dia sedang membajak ladangnya tatkala para utusan Senat datang untuk mengabarinya bahwa dia telah dijadikan diktator, dan begitu melihat mereka dia menyuruh isterinya mengambilkan toganya dari rumah untuk dikenakannya sehingga utusan-utusan itu dapat disambut dengan layak. Sekalipun kebenarannya boleh diragukan, riwayat itu tetap memperlihatkan sentimen Romawi terhadap toga.

Seiring berlalunya waktu, gaya berbusana pun berganti. Bangsa Romawi mengadopsi baju (tunica, atau khiton dalam bahasa Yunani) yang dikenakan orang-orang Yunani dan Etruskan, membuat toga menjadi makin berisi, sehingga lilitannya perlu agak dilonggarkan bila dikenakan. Akibatnya toga menjadi tidak berguna dalam aktivitas-aktivitas yang memerlukan kegesitan, misalnya dalam perang. Oleh karena itu toga digantikan oleh sagum (mantel wol) yang lebih ringan dalam semua kegiatan militer. Di masa-masa damai sekalipun toga akhirnya tergeser oleh laenalacernapaenula, dan macam-macam mantel berkancing atau tertutup lainnya. Meskipun demikian, toga tetap menjadi pakaian sidang kekaisaran sejak sekitar tahun 44 SM.

Proses yang telah menggeser toga dari kehidupan sehari-hari itu, juga telah mengangkat derajat toga menjadi pakaian seremonial, sebagaimana yang sering terjadi dalam dunia busana. Toga dapat pula dikenakan untuk menunjukkan jenjang-jenjang kekuasaan. Seawal abad ke-2 SM, dan mungkin sekali bahkan sebelumnya, toga {beserta calceus) dipandang sebagai lambang Kewarganegaraan Romawi. Toga terlarang bagi orang asing, dan bahkan bagi orang-orang Romawi yang diasingkan. Toga dikenakan oleh para magistratus dalam setiap kesempatan sebagai lambang jabatan mereka. Seorang magistratus yang tampil mengenakan mantel Yunani (pallium) dan kasut akan terlihat sangat tidak sopan di mata semua orang, jika tidak dianggap melakukan tindakan kriminal. Augustus, misalnya, saking murkanya menyaksikan sebuah pertemuan warga tanpa toga, sambil mengutip kata-kata angkuh Virgilus, “Romanos, rerum dominos, gentemque togatam” (“Orang-orang Romawi, para penguasa dunia, ras pemakai toga”), dia bertitah kepada para aedile agar kelak tak seorang pun boleh tampil di Forum atau Sirkus tanpa mengenakan toga.

Karena tidak dikenakan oleh para serdadu, maka toga dipandang sebagai simbol perdamaian. Warga sipil kadang-kadang disebut togatus, “pemakai toga”, bertolak belakang dengan para serdadu pemakai-sagumDe Officiis karya Cicero berisi frase cedant arma togae: secara harafiah berarti, “biarlah lengan takluk pada toga”, maksudnya “biarlah perdamaian menggantikan perang”, atau “biarlah kekuatan militer takluk pada kekuasaan sipil.”

MACAM-MACAM TOGA

Ada bermacam-macam toga, penggunaannya pun berbeda-beda.

  • Toga virilis (toga alba atau toga pura): Toga putih sederhana, untuk acara-acara resmi, dikenakan oleh kaum pria Romawi yang sudah mencapai usia legal, umumnya antara 14 sampai 18 tahun, tetapi dapat pula pada umur berapa saja semasih berusia belasan tahun. Pemakaian perdana toga virilis adalah bagian dari perayaan memasuki usia dewasa.
  • Toga candida: “Toga cemerlang”; toga yang diputihkan dengan kapur sehingga terlihat putih menyilaukan, dikenakan oleh para kandidat jabatan publik. Kebiasaan inilah yang disinggung oleh Persius ketika berbicara tentang cretata ambitio, “ambisi berkapur”. Tampaknya kebiasaan ini dilarang melalui sebuah plebiscita (jajak pendapat) pada 432 SM, namun larangan tersebut tidak pernah dipaksakan. Nama toga ini menjadi sumber etimologis dari kata kandidat.
  • Toga praetexta: Toga putih biasa dengan garis lebar berwarna ungu sepanjang tepinya. Dikenakan oleh
    • Anak-anak lelaki yang terlahir merdeka dan belum akil-balig.
    • Seluruh Magistratus Curulis.
    • Para mantan Magistratus Curulis dan diktator, pada upacara pemakaman dan tampaknya juga pada festival-festival dan perayaan-perayaan lainnya.
    • Sebagian imam (mis. Flamen DialisCollegium PontificumTresviri Epulones, para augur, dan Fratres Arvales).
    • Pada era kekaisaran, hak mengenakan toga praetexta kadangkala diberikan sebagai anugerah kehormatan tanpa memandang jabatan resmi si penerima hak.
    • Menurut tradisi, para Raja Roma.

Orang-orang yang berhak mengenakan toga praetexta kadang-kadang dijuluki laticlavius, “punya garis ungu lebar”. Nama toga ini juga menjadi sumber etimologis dari istilah sastra Romawi, praetexta.

  • Toga pulla: Secara harafiah berarti “toga gelap”. Terutama dikenakan oleh sidang perkabungan, namun dapat pula dikenakan di saat-saat seseorang terancam bahaya atau masyarakat mengalami kecemasan. Toga ini kadang-kadang digunakan sebagai ungkapan protes—tatkala Cicero diasingkan, senat memutuskan untuk mengenakan togae pullae sebagai suatu demonstrasi menentang keputusan pengasingan tersebut. Para magistratus yang berhak mengenakan toga praetexta, hanya mengenakan toga pura sederhana, bukannya pulla.
  • Toga picta: Toga ini, tidak seperti semua toga lainnya, tidak saja diwarnai namun juga dibordir dan diberi hiasan. Toga ini berwarna ungu gelap, dihiasi sulaman dari benang emas. Pada era repubrik, toga ini dikenakan oleh para jenderal dalam parade kemenangan mereka, dan oleh Praetor Urbanus tatkala berkendara dengan kereta para dewa ke dalam sirkus di Ludi Apollinares. Pada era kekaisaran, toga picta dikenakan oleh para magistratus dalam pertujukan gladiator untuk umum, dan oleh para konsul, serta kaisar pada kesempatan-kesempatan istimewa.
  • Toga trabea: Menurut Servius, ada tiga macam trabea: yang pertama trabea ungu, diperuntukkan bagi dewa-dewa; yang kedua trabea ungu dan sedikit putih, bagi raja-raja; dan yang ketiga trabea dengan garis merah manyala dan tepian ungu, bagi para augur dan SaliiDionysius dari Halicarnassus mengatakan bahwa orang-orang dari kelas Equites juga mengenakannya, namun tidak ada bukti lain yang menguatkan pernyataannya.

PENGGUNAAN DEWASA INI

Di beberapa negara, tradisi pesta toga (bahasa Inggristoga party) telah populer dalam beberapa dekade terakhir, umumnya di kolose-kolose dan universitas-universitas.

Kebiasaan ini practice trades on the exaggerated legend of Roman debauchery, dan para undangan yang mengenakan “toga”, yang biasanya dibuat dari seprai. “Toga-toga” semacam ini hanya sedikit kemiripannya dengan toga Romawi kuna karena lebih sederhana dan pendek.

Di Indonesia, jubah yang dikenakan para imam Katolik (bahasa InggrisCassockbahasa PerancisSoutanebahasa ItaliaAbito talare) jubah para pendeta Protestan (bahasa Inggris: Geneva gown), jubah akademik atau jubah wisuda (bahasa InggrisAcademic dress), serta jubah yang dikenakan dalam persidangan (bahasa Inggris: Court dress), disebut juga Toga, meskipun berbeda-beda pola dan bahannya.

TOGA PENDETA

Dasar pemakaian toga bagi pendeta di gereja-gerea Indonesia memang belum jelas alasan teologisnya, tetapi lebih kepada alasan tradisi yang di bawa oleh pekabar Injil dari Eropa. Para pendeta di gereja protestan khususnya Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB), Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), dll, memakai toga sebagai perlengkapan pakaian ibadah di gereja. Masing-masing gereja mempunyai tradisi ataupun peraturan tentang pemakaian toga oleh pendeta. Ada gereja yang mewajibkan pemakaian toga oleh pendeta setiap kali naik mimbar ibadah, ada yang menggunakannya hanya ketika melayankan sakramen ataupun upacara-upacara gerejawi. Secara umum warna toga yang dikenakan para pendeta ada dua, yaitu hitam dan putih.

TOGA  GLORIA HASTA KARYA

 (tampak depan)  (tampak belakang)

Pemesanan bisa melalui
1. Pin BB: 5CDB7CD1
2. Phone/WhatsApp/Line: +628882825608
3. Email: collarshirt@yahoo.com

Pemesanan dengan mengirim ukuran toga:

  1. Lingkar pinggang
  2. Lingkar dada
  3. Lingkar panggul
  4. Lebar bahu
  5. Panjang lengan
  6. Lebar lengan
  7. Panjang toga
  8. Lingkar leher

(Sumber Utama: www.wikipedia.or.id)

Posted on

KALENDER GEREJAWI DAN SIMBOL

Hari-hari raya gerejawi adalah hari-hari khusus yang dirayakan oleh gereja/umat Kristen di seluruh dunia dalam rangka memelihara iman kristen dan menyaksikan karya penyelamatan Allah kepada dunia melalui Anak-Nya Yesus Kristus, Juruselamat dunia. Dalam tahun gerejawi, yang menonjol adalah hari raya Natal dan hari raya Paskah. Kedua hari raya ini merupakan hari-hari penentu bagi keseluruhan tahun gerejawi (Natal, Kesengsaraan, Paskah, Kenaikan, dan Pentakosta).

Dalam tahun gerejawi, warna memegang peranan penting. Setiap masa memiliki warna tersendiri, sehingga pelaksanaan tahun gerejawi disertai dengan penggunaan warna. Penggunaan warna kemudian diikuti dengan penggunaan simbol-simbol gerejawi, sehingga tahun gerejawi ditandai dengan simbol dan warna tertentu.

1. ADVEN

Dari kata latin “Adventus” yang berarti kedatangan, yaitu kedatangan Tuhan Yesus (pada akhir zaman). Karena itu, masa Adven adalah masa penyadaran diri dan pertobatan. Selama Adven, pembacaan Alkitab ditekankan pada pembacaan nubuat-nubuat Perjanjian  Lama tentang kedatangan Mesias. Masa Adven yaitu empat (4) minggu sebelum tanggal 25 Desember.

Image

Warna Liturgi untuk masa Advent : Ungu atau merah lembayung.

Simbol                         : Salib-Jangkar

Warna dasar               : ungu muda

Warna jangkar            : kuning

Arti:

Salib-Jangkar ini digunakan oleh orang Kristen mula-mula yang tinggal di katakombe (Goa bawah tanah untuk tempat persembunyian). Lambang ini adalah warisan bangsa Mesir kuno, namun kemudian menjadi lambang universal yang menunjuk pada penderitaan Kristus. Salab-Jangkar melambangkan pengharapan umat percaya di dalam masa kedatangan Kristus yang kedua.

2. NATAL

Natal adalah masa yang dimulai pada hari Natal dan berakhir selama 12 hari sampai tanggal 5 Januari malam, sebelum Epifania. Sejak akhir abad IV Natal dirayakan setiap tanggal 25 Desember sebagai peringatan kelahiran Kristus. Semula tanggal 25 Desember oleh dunia kafir dirayakan sebagai pesta Sol Invictus (matahari yang tak terkalahkan). Dengan merayakan 25 Desember sebagai kelahiran Kristus, gereja ingin menyatakan bahwa Terang yang baru, Matahari Kebenaran (Sol Institae), yang dinubuatkan nabi Maleakhi (Mal.4:2) adalah Kristus, Juru Selamat dunia yang datang dari Allah.

Image

Warna liturgi untuk masa Natal: putih

symbol                        : palungan dan pelangi

Warna dasar                : putih

Warna pelangi              : merah, kuning, hijau

Warna palungan           : kuning

Arti:

Pelangi merupakan symbol kesetiaan dan cinta kasih Allah kepada dunia; Allah tidak akan menghancurkan bumi lagi (ingat air bah pada jaman Nuh). Pelangi juga mengingatkan kita tentang kesungguhan Allah untuk memenuhi janjiNya. Palungan memberi arti lawatan Allah kepada manusia yang nyata dalam diri anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus sebagai Juru Selamat manusia. Pelangi dan palungan mengungkapkan kasih dan kesetiaan Allah terhadap dunia.

3. EPIFANIA

Epifania berarti “membuat nyata/jelas”. Masa Epifania dimulai pada tanggal 6 Januari, lamanya bervariasi tergantung penetapan Paskah. Selambat-lambatnya masa Epifania berlangsung sampai Minggu Septuagesima, 64 hari sebelum Paskah. Gereja protestan merayakan Epifania sebagai hari penampakan Yesus setelah dibaptis atau hari perjamuan kudus yang pertama. Ibadah-ibadah ditekankan pada pernyataan Yesus sebagai “Terang bagi bangsa-bangsa kafir”.

Image

Warna liturgy untuk masa Epifania : Putih

Simbol               : Bintang besegi lima didalam lingkaran

Warna dasar       : hijau

Warna bintang    : putih

Warna lingkaran : kuning

Arti:

Bintang adalah lambang cahaya dalam kegelapan. Bintang bersegi lima ini lebih dikenal dengan bintang Yakub yang menunjuk pada terbitnya bintang dari keturunan Yakub (bil. 24:17). Terbitnya bintang ini kemudian dinyatakan melalui kelahiran Yesus yang ditandai pula dengan munculnya bintang di timur (Mat. 2:1-2). Kristus disebut sebagai “Bintang Kejora”, “Bintang Timur” (Why. 22:16) yang gilang gemilang, yang menjadi cahaya dalam kehidupan kita.

4. MINGGU PRA-PASKAH

Masa Pra-Paskah dirayakan tujuh (7) minggu sebelum Paskah. Selama masa Pra-Paskah jemaat melakukan puasa. Di beberapa gereja masa ini diisi dengan puasa solidaritas untuk diakonia.  Minggu Pra-Paskah merupakan masa untuk mawas diri dan bertobat dengan mengenang pengorbanan Kristus di kayu salib; masa untuk merenungkann ulang undangan hidup baru di dalam Kristus.

Image

Warna liturgy untuk masa pra-Paskah adalah ungu atau hijau, dan pada hari Jumat Agung diganti warna hitam.

Symbol                            : Ikan (Ichtus)

Warna                              : Ungu tua

Warna tepi ikan dan huruf  : kuning

Tulisan di bawah ikan         : Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat.

Arti:

Ichtus adalah suatu sandi rahasia di kalangan orang Kristen mula-mula (terdapat dalam katakombe) yang mengalami penganiayaan. Dalam bahasa Yunani kata Ichtus berarti ikan dan merupakan huruf-huruf awal dari nama-nama Yunani bagi Kristus: Iesous Christos Theou Uios Soter yang artinya Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat.

5. JUMAT AGUNG

Jumat Agung di rayakan untuk memperingati kesengsaraan dan kematian Yesus di kayu salib di Golgota untuk menyelamatkan manusia. Jumat Agung adalah hari yang muram, hari untuk berefleksi diri atas segala dosa yang telah dilakukan dan kesediaan untuk bertobat.

Image

Warna liturgi Jumat Agung :  hitam.

Symbol                        : salib dan mahkota duri

Warna dasar               : hitam

Warna salib                 : putih

Wana mahkota           : kuning

Arti:

Salib merupakan lambang yang sudah sangat dikenal untuk menunjuk pada penderitaan Kristus.hukuman salib adalah hukuman mati yang sangat hina pada jaman kuno di Timur Tengah, kemudian digunakan juga oleh bangsa Romawi. Salib dan mahkota duri menunjukkan penghinaan dan kekejaman manusia terhadap Yesus sampai pada kematian-Nya di kayu salib.

6. PASKAH

Paskah dirayakan sebagai hari kebangkitan Kristus yang merupakan dasar kekristenan. Masa Paskah dimulai pada Minggu Paskah dan dilanjutkan selama 50 hari sampai Pentakosta. Paskah dari kata Ibrani “pesah” yang berarti “melewati” atau “berlalu”, bagi orang percaya berarti berlalunya kuasa dosa dalam hidupnya.

Image

Warna liturgy untuk Paskah  : putih

Symbol                               : bunga lily (putih)

Warna dasar                        : putih

Arti:

Bunga lily merupakan symbol kekekalan. Untuk tumbuh menjadi pohon, umbi bunga lily harus ditanam dan mati di dalam tanah, sesudah itu baru tumbuh kehidupan baru. Lewat Paskah orang percaya telah menerima kehidupan baru yang kekal karena penderitaan dan kematian serta kebangkitan Kristus.

7. KENAIKAN

Dengan kenaikan-Nya ke sorga, Kristus diakui sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan. Yesus yang mati dan bangkit telah ditinggikan Allah, sehingga mengambil bagian dalam kemuliaan, kekuasaan, dan pemrintahan Allah secara penuh.

Image

Warna liturgy untuk kenaikan: putih

Symbol : salib dan mahkota kemuliaan

Warna dasar : putih

Warna mahkota dan salib : kuning

Arti:

Melalui penderitaan dan kematian Kristus, mahkota duri yang diletakkan di kepala-Nya diganti   dengan  mahkota  kemuliaan  yang dinyatakan melalui kenaikan-Nya. Setiap orang yang percaya kepada-Nya akan memperoleh mahkota kehidupan (Why. 2:10).

8. PENTAKOSTA

Pentakosta artinya hari kelima puluh (sesudah paskah). Pentakosta dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus dan hari kelahiran gereja.

Image

Warna liturgy untuk hari Pentakosta: hijau.

Symbol : burung merpati (7ekor), atau lidah api (7buah) dan seekor burung merpati yang menukik.

Warna dasar               : merah

Warna merpati            : perak

Warna lidah api           : kuning pada tepinya

Arti:

Ketujuh ekor burung merpati atau ketujuh lidah api melambangkan ke tujuh Roh Allah (Why. 4:5) membentuk lingkaran yang menghadirkan kekekalan. Kewtujuh ekor burung merpati atau ketujuh lidah api itu juga melambangkan tujuh buah karunia Roh Kudus (Why. 5:12 atau Yes. 12:2-3). Merpati yang menukik dan lidah api menunjuk pada peristiwa pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta.

9. MINGGU PENTAKOSTA / MINGGU TRINITAS KE-1

Minggu Pentakosta diikuti oleh masa Trinitas, yang dimulai dengan Minggu Trinitas seminggu kemudian. Hari Minggu Trinitas dirayakan satu minggu sesudah hari Pentakosta (minggu I sesudah Pentakosta) untuk menyaksikan Allah yang esa. Dalam hari raya ini pernyataan Allah dan kekudusan keesaan-Nya menjadi pusat ibadah jemaat.

Image

Warna liturgy Minggu Pentakosta / Minggu Trinitas ke-1: putih

Symbol                 : lingkaran segitiga / triquetra

Warna dasar         : putih

Warna lambang    : merah

Arti:

Lambang lingkaran segitiga merupakan lambang ketritunggalan yang mula-mula. Tiga buah lekukan yang tidak terputus, saling bersambung, menyatakan kekekalan dari ketritunggalan tersebut. Pada pusat ketiga lekukan tersebut terbentuk segi tiga yang merupakan symbol Tri tunggal.

10. MINGGU SESUDAH MINGGU PENTAKOSTA / MINGGU TRINITAS

Minggu sesudah Pentakosta dirayakan selama 25 minggu. Masa ini disebut Masa Gereja Berjuang. Minggu sesudah Pentakosta untuk mengingatkan kita akan perjuangan hidup gereja sepanjang masa. Dalam perjuangan itu Allah menyertai gereja-Nya.

Image

Simbol,  burung merpati dengan ranting zaitun diparuhnya, perahu layar, dan pelangi.

Warna dasar               : hijau

Warna pelangi             : merah, kuning, hijau

Warna burung              : putih

Warna ranting              : pinggir putih

Warna tiang dan layar   : putih (penuh)

Warna salib                 : hijau

Warna ombak              : putih

Warna perahu              : bergaris putih

Arti:

Perahu merupakan symbol gereja. Ide ini sangat berarti bagi orang Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan dan pergumulan. Mereka percaya bahwa Tuhan menjadi penolong dalam penganiayaan dan pergumulan itu. Hal tersebut ternyata dari perpaduan antara pelangi dan perahu. Dalam symbol ini janji Allah untuk memelihara gereja dan dunia mendapat tekanan yang kuat. Burung merpati dengan ranting zaitun di paruhnya mengungkapkan tentang janji keselamatan dan kehidupan dari Allah yang akan terus menyertai gereja sampai di tujuan.

PEMBAGIAN MINGGU MENURUT TAHUN GEREJAWI

Pembagian minggu-minggu menurut tahun gerejawi yang diikuti oleh gereja pada umumnya, adalah sebagai berikut :

NO

HARI

ARTI/MAKSUD

MASA

WARNA

SIMBOL

1

Minggu Advent

Minggu persiapan Natal

Empat minggu sebelum tanggal 25 Desember

Ungu

Salib jangkar

2

Hari Raya Natal

Hari Kelahiran Kristus

Tanggal 25 desember

Putih

Palungan dan pelangi

3

Minggu Epifania

Hari pernyataan Yesus secara khusus baptisan-Nya

S/d tanggal 06 Januari

Hijau

Bintang bersegi lima

4

Masa Prapaskah

Persiapan Paskah

Tujuh minggu sebelum Paskah

Ungu atau hitam

Ikan (Ichtus)

5

Jumat Agung

Kematian Kristus

Hari Jumat sebelum Paskah

Hitam atau merah

Salib dan mahkota duri

6

Paskah

Kebangkitan Kristus

Hari minggu Paskah

Putih

Bunga lili

7

Kenaikan Kristus

Kenaikan Kristus ke surga

Empat puluh hari sesudah Paskah

Putih

Salib dan mahkota kemuliaan

8

Pentakosta

Turunnya Roh Kudus

Sepuluh hari sesudah kenaikan

merah

Lidah api dan burung merpati

9

Minggu Pentakosta/Minggu Trinitas ke-1

Hari untuk menghayati ketritunggalan Allah

Satu minggu sesudah hari Pentakosta

Putih

Triquetra

10

Hari-hari Minggu sesudah Trinitas ke-2 sampai ke-26

Masa gereja Berjuang

25 minggu sesudah minggu Pentakosta/Minggu Trinitas I

Hijau

Burung merpati dengan ranting-ranting zaitun di paruhnya, perahu berlayar, dan pelangi.

Keterangan secara rinci minggu-minggu tersebut sebagai berikut (kata yang dicetak miring menunjukkan arti minggu tersebut atau introitus dalam bahasa latin) :

  1. Minggu advent : empat minggu sebelum tanggal 25 Desember
  2. Hari raya Natal : tanggal 25 desember
  3. Minggu Epifania (hari pernyataan Yesus secara khusus : baptisan-Nya s/d tanggal 6 Januari).
  4. Minggu Septuagesima (ketujuh puluh: 70 hari sebelum Paskah).
  5. Minggu Sexagesima (keenam puluh :60 hari sebelum Paskah).
  6. Minggu Quinquagesima (kelima puluh : 50 hari sebelum Paskah).
  7. Minggu Esto Mihi (Minggu Sengsara I) “Jadilah bagiku” Maz. 31:3.
  8. Minggu Invocavit (Minggu Sengsara II) “Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawab …” (maz. 91:15).
  9. Minggu Reminiscere (Minggu Sengsara III) “Ingatlah segala rahmatMu dan kasih setiaMu, ya Tuhan”. (Maz. 25:6).
  10. Minggu Oculi (Minggu Sengsara IV) “Mataku tetap terarah kepada Tuhan …. (Maz. 25:15).
  11. Minggu Laetare (Minggu Sengsara V) “Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem ….” (Yesaya 66:10).
  12. Minggu Judica (Minggu Sengsara VI) “Berilah keadilan kepadaku, ya Allah ….” (Mazmur 43:1).
  13. Minggu Palmarum (Minggu Sengsara VII).
  14. Hari Raya Paskah : Kebangkitan Kristus.
  15. Minggu Quasimodogeniti (Minggu Paskah ke-1) “ Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir … “ (II Petrus 2:2).
  16. Minggu Misericordias Domini (Minggu paskah ke-2) “ … bumi penuh dengan kasih setia Tuhan “ (Mazmur 33:5).
  17. Minggu Yubilate (Minggu Paskah ke-3) “Bersorak-soraklah bagi Allah, hai seluruh bumi …” (Mazmur 66:1).
  18. Minggu Cantatae (Minggu Paskah ke-4) “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan … “ (Mazmur 98:1).
  19. Minggu Rogate (Minggu Paskah ke-5) “Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku …” (Mazmur 66:20).
  20. Peringatan Kenaikan Yesus ke sorga.
  21. Minggu Exaudi “Dengarlah Tuhan, seruan yang kusampaikan ….” Mazmur 27:7.
  22. Pentakosta : hari turunnya Roh Kudus.
  23. Minggu Pentakosta/Minggu Trinitas ke-1.
  24. Minggu Trinitas ke-2 – ke-26.

( yaw: dari berbagai sumber )