Posted on

STOLA TERBARU GPIB

IMG_20160516_171756Persidangan Sinode XX GPIB tahun 2015 telah berlangsung pada tanggal 26 – 31 Oktober 2015 di hotel Swiss Bell Balikpapan Kalimantan Timur. Selanjutnya menjadi tugas Majelis Sinode XX menerbitkan hasil Persidangan Sinode tahun 2015 tersebut ke dalam buku-buku. Majelis Sinode XX telah menerbitkan 5 buku untuk mendokumentasikan hasil persidangan tersebut. Kelima buku tersebut diantaranya;

1. Buku I.   : tentang Perangkat Teologi dengan lampirannya yaitu Naskah Pemahaman Iman dan Naskah Aktq Gereja.

2. Buku II.   : tentang Perangkat Teologi dengan lampirannya yaitu; Naskah Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis.

3. Buku III. : tentang PKUPPG dan Grand Design PPSDI dengan lampirannya Naskah PKUPPG dan Naskah Grand Design PPSDI.

4. Buku IV.  : tentang Tata Gereja dengan lampirannya Naskah Tata Gereja.

5. Buku V.   : Seluruh hasil Persidangan Sinode XX yaitu Arahan Teologis dan Ketetapan-ketetapan (termasuk lampiran-lampitannya)

STOLA TERBARU GPIB

Terkait dengan penggunaan dan model stola terbaru GPIB termuat dalam buku II pada bagian Pakaian Liturgis di halaman 180 – 181. Pada buku II tersebut dijelaskan bahwa Stola (bahasa Yunani: kain penutup) adalah sepotong kain yqng agak panjang seperti selendang dikalungkan di leher. Stola bukan perhiasan melainkan bagian dari pakaian liturgis yang bersifat fungsional.

Setiap presbiter (diaken, penatua dan pendeta) yang sedang bertugas sebagai pemberita firman, maupun pelayan liturgi mesti menggunakan stola. Toga dan baniangpun harus dipakai dengan stola. Penggunaan stola oleh presbiter yang sedang bertugas mau menjelaskan bahwa ia sedang diutus Tuhan untuk suatu pelayanan dengan kewibawaan yang bukan  berasal dari dir8nya sendiri.

Stola memiliki lebar kurang lebih 12 cm dan panjangnya sampai ke lutut si pemakai setelah dikalungkan atau menyesuaikan kebutuhan pemakai. Warna stola disesuaikan dengan warna liturgis Tahun Gereja seperti halnya kain mimbar.

Meskipun stola dan loga tahun gereja bersifat oikumenis, namun GPIB perlu merancang stola dengan kekhasannya sendiri. Salah satu kekhasan GPIB terkandung dalam motonya. Karena itu, diusulkan agar pada stola ditempatkan, bukan saja gambar tahun gereja, tetapi juga moto GPIB. Jika selama ini, gambar tahun gereja ditempatkan di bagian bawah ujung stola maka diusulkan sekarang agar kedua gambar tersebut ditempatkan di bagian atas tepat di dada: moto GPIB di sebelah kanan dan logo tahun gereja disebelah kiri. Berikut contohnya:

 IMG_20160516_171840IMG_20160516_171830IMG_20160516_171836IMG_20160517_002108IMG_20160517_002103

Kami telah melayani pembuatan berbagai model stola serta perlengkapan gerejawi lainnya. Secara khusus kami juga melayani pembuatan stola terbaru GPIB sesuai keputusan Persidangan Sinode XX GPIB. Untuk pemesanan hubungi;

1. Pin BB           : 5CDB7CD1

2. Phone/WA.   : +62 81 286 082 999

3. Facebook: Baju Pendeta Collar Shirt

4. Email: collarshirt@yahoo.com

Salam damai sejahtera!

Posted on

Baniang GPIB Terbaru

IMG_20160413_064221

Majelis sinode GPIB melalui Unit Kerja Penerbitan (UKP) menerbitkan beberapa buku yang merupakan hasil Persidangan Sinode XX tahun 2015 di Balikpapan.

Buku yang ditandatangani Ketua Umum Majelis Sinode GPIB Pdt Paulus Kariso Rumambi M.Si dan Sekretaris Umum Pdt Marlene Joseph M.Th ini terdiri dari empat buku, yakni Buku I Pemahaman Iman dan Akta Gereja, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis, Buku III PKUPPG & Grand Design PPSDI dan Buku IV Tata gereja.

“Tugas Majelis Sinode XX menerbitkan dokumentasi hasil Persidangan Sinode XX tahun 2015 kedalam buku-buku,” kata Pdt Paulus Kariso Rumambi. Harapannya, buku-buku ini bisa sampai ke jemaat dan dapat memahami segala hal yang telah ditetapkan untuki dilaksanakan.

Dalam Buku I dengan sampul berwarna merah cukup banyak yang haraus diketahui sebagai pelayan di GPIB, antara lain diatur soal Perkawinan Beda Agama, alat Kelamin Buatan, Homoseks, Biseks, Poligami dan Penjualan Organ Tubuh.

Di Buku II dengan sampul berwarna kuning Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis diatur antara lain soal Tata ibadah Hari Minggu, tata ibadah persekutuan doa, hingga tata ibadah Pelkat-pelkat. Di buku ini juga diatur soal pemakaian Tata Busana Pakaian Liturgis seperti Toga, Baniang, Stola dan perangkat ibadah lainnya.

Sebagaimana diketahui Toga, Baniang, Stola dan perangkat ibadah lainnya saat ini diperbaharui. Pelayan Tuhan dalam hal ini Diaken, Penatua dan Pendeta ada yang sudah mengenakan pakaian liturgis yang baru. Untuk Toga diatas pundak ada tiga kancing besar sebagai simbol Tritunggal dan kancing depan 12 kancing simbol 12 murid.

Buku III dengan sampul hijau PPKKUPG & Grand Design PPSDI berisikan ajakan Membangun dan Mengembangkan Gereja Misioner yang didasarkan pada potensi internal dan peluang eksternal. Di buku ini juga diaitur sola pendekatan grand design PPSDI GPIB yang berbasiskan kompetensi. Dan tak kalah menariknya adalah buku setebal 163 halaman ini juga mengurai secara jelas apa itu Iman GPIB.

Buku IV Tata Gereja dengan sampul biru berisikan 18 Peraturan Pokok antara Peraturan tentang Jemaat, Persidangan Sinode, Presbiter dan Peraturan tentang Musyawarah Pelayanan hingga Pelayanan Kategorial.

BANIANG TERBARU

Salah satu keputusan Persidanagan Sinode  XX tahun 2015 di Balikpapan adalah terkait dengan pakaian liturgis. Ada pembaharuan ketentuan penggunaan pakaian liturgis, baik itu toga, stola dan baniang. Baniang yang dipakai adalah baniang dengan kombinasi kerah clerical collar tujuannya untuk tetap memberikan makna segi oikumenis dan sebagai identitas bagi pendeta dalam tugas pelayanannya di masyarakat.

Kami melayani penjahitan baniang yang dimaksud sesuai ukuran yang dikehendaki. Kami memberikan harga khusus bagi para para pelayan Tuhan, sekalipun demikian kami tetap menggunakan kain dan jahitan standar jas.

Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan silakan hubungi kami di:

Pin BB  : 5CDB7CD1, 5EA73676

HP/WA : 081286082999, 08882825608

Facebook: www.facebook.com/Rusi.Widamayanti

P_20160412_170651_1P_20160412_170725_1P_20160412_170907_1

Posted on

Mengapa Seorang Pendeta Memakai Baju Ber-Collar?

12687863_902483899865878_2810889721106892955_n
Baju menjadi sesuatu yang sangat penting bagi orang yang memakainya. Fungsi utama baju pada mulanya untuk menutup aurat manusia supaya tidak malu (ingat cerita kejatuhan manusia dalam dosa). Dalam perkembangannya baju sebagai sarana untuk melindungi tubuh dari cuaca yang ekstrem. Pada masyarakat  yang semakin maju baju telah menjadi mode yang akan menambah menarik penampilan seseorang. Bahkan baju disejajarkan dengan harga diri seseorang, baju menunjukkan identitas si pemakainya.
Orang Jawa punya ungkapan “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”. artinya bahwa harga diri dan kehormatan seseorang bisa dinilai dari cara dia bertutur kata dan berpakaian. Orang yang memakai baju putih dan celana pendek merah diidentifikasi sebagai anak SD yang masih kanak-kanak, orang yang memakai baju compang-camping dan lusuh diidentifikasi sebagai pengemis atau gelandangan yang akan dipandang sebelah mata, orang yang memakai baju loreng diidentifikasi sebagai anggota militer yang disegani, seorang yang memakai baju collar diidentifikasi sebagai pendeta yang dihormati karena jalan hidup yang dipilih untuk melayani Tuhan, dll.
Seorang pendeta sangat mudah dikenali ketika dia memakai jubah hitam atau putih dalam suatu ibadah. Jika diluar ibadah atau dilapangan pelayanan seorang pendeta akan mudah dikenali ketika memakai baju pendeta atau collar shirt. Baju pendeta memiliki istilah yang berbeda-beda disetiap daerah. Orang Sumatra menyebut dengan istilah parhobas, orang sulawesi menyebut dengan istilah toga mini, orang kalimantan menyebut baniang, dll. Namun secara umum baju pendeta dikenal atau disebut sebagai collar shirt atau clerical shirt, yang menyampaikan pesan bahwa baju itu dipakai oleh kaum klerus atau kaum agamawan, secara khusus dipakai oleh pendeta. Collar shirt atau baju pendeta adalah baju yang umum dikenakan oleh seorang pendeta atau imam tertahbis. Dimana baju tersebut pada krah atau lehernya terdapat garis putih/band terbuat dari kain atau plastik yang bisa dilepas pakai.
Sejak kapan kaum klerus atau agamawan/pendeta memakai pakaian khusus ini tidak banyak diketahui. Yang pasti bahwa pakaian tersebut sudah dikenal sejak abad pertengahan, bahkan masing-masing denominasi mempunyai tradisinya masing-masing. Ada baju collar menurut tradisi Ortodok Timur, tradisi Katholik, tradisi Lutheran, tradisi Metodhist, dll. Di Indonesia, ketika seseorang memakai baju collar maka si pemakai diidentifikasi sebagai seorang pendeta. Pemakai baju collar di Indonesia pada umumnya adalah seorang pendeta prostestan, sekalipun pada mulanya lahir dan lebih dahulu dipakai oleh pastor Katholik.
Para pendeta ketika melakukan perkunjungan pastoral ataupun pelayanan di luar gedung gereja lebih suka memakai baju collar, disamping praktis juga lebih nyaman dan adem, tidak seperti ketika memakai jubah. Hanya saja banyak pendeta yang tidak mengerti atau memahami mengapa mereka memakai baju yang ber-collar. Jika si pemakai saja tidak mengerti apa maknanya apalagi umat? Setidaknya, sebelum kita memakainya sebagai busana khusus pendeta kita memahami terlebih dahulu supaya ketika ada umat yang bertanya kita bisa menjawabnya dengan mantap. Beberapa hal yang mungkin bisa memberi pencerahan kepada kita mengapa ada garis putih di baju yang dipakai seorang pendeta; diantaranya:
1) Baju ber-collar sebagai simbol atau pengakuan bahwa sekalipun manusia pembawa berita Injil itu berdosa (digambarkan dengan memakai pakaian hitam) namun mulut mereka dipakai Allah, pada bagian leher ada warna putih punya makna bahwa lidah mereka dipakai Allah untuk menyampaikan firmanNya yang suci.
2) Baju ber-collar merupakan tanda konsekrasi imamat kepada Tuhan. Sebagaimana cincin kawin menunjukkan kekhasan suami isteri dan menandakan persatuan di antara mereka, maka collar menunjukkan jati diri para pendeta sekaligus menunjukkan kedekatan mereka dengan Allah melalui penyerahan diri sendiri kepada panggilan tahbisan yang telah mereka terima.
3) Dengan mengenakan busana klerus dan dengan tidak memiliki pakaian berlebihan, pendeta menunjukkan ketaatan meneladani Yesus dalam kemiskinan material. Seorang Imam atau pendeta tidak memilih pakaiannya sendiri– Gereja lah yang memilih baginya.
4) Baju ber-collar mengingatkan seorang pendeta untuk menjaga tutur kata dan perilakunya agar tetap pantas dan mencerminkan jatidiri sebagai seorang pelayan yang harus bersaksi bagi Tuhan Yesus.
5) Baju ber-collar menjadi pengingat seorang pendeta untuk senantiasa siap melayani bagi siapun yang membutuhkan bantuan dan pertolongannya.
Demikian beberapa hal yang dapat dipahami ketika seorang pendeta mengenakan baju collar. Karena itu jika anda mengenakan baju ber-collar maka jagalah seluruh kata dan perbuatan anda, karena jati diri anda mencerminkan seorang pelayan yang membawa nama Kristus Yesus. (yaw)
Salam damai sejahtera.
Kontak kami di:
Pin BB      : 5CDB7CD1, 5EA73676
WA/Line   : +62 81 286 082 999, +62 888 282 5608
Facebook : https://www.facebook.com/Rusi.Widamayanti/
Instagram: @collarshirt
Twitter     : @collar_shirt
Path          : Collar Shirt
E-Mail      : collarshirt@yahoo.com, bajupendeta@gmail.com
Berikut koleksi baju collar (Collar Shirt) yang diproduksi oleh www.bajupendeta.com.
Posted on

Rabu Abu dan Masa Pra-Paskah

Dalam agama kristen tradisi barat (termasuk Katolik Roma dan Protestan),  Rabu Abu adalah hari pertama masa Pra-Paskah.  Ini terjadi pada hari Rabu, 40 hari sebelum Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu atau 44 hari (termasuk Minggu) sebelum  hari  Jumat Agung.

Pada hari ini umat yang datang ke Gereja dahinya diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuno di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (misalnya seperti dalam Kitab Ester 4:1, 3). Dalam Mazmur 102:10 penyesalan juga digambarkan dengan “memakan abu”: “Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan.” Biasanya pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan, “Bertobatlah dan percayalah pada Injil.”

Pada abad ke-4, Paskah dihitung sejak Jumat Agung,  sehingga akhir masa Pra-Paskah adalah Kamis Putih. Awal masa  Pra-Paskah ditentukan dengan menghitung mundur sebanyak 40 hari tanpa memperhitungkan hari Minggu. Namun Gereja dan umat Kristen pada abad tersebutmerayakan awal masa Pra-Paskah tetap pada hari Minggu Pra-Paskah pertama,  sehingga tidak genap 40  hari tetapi  36 hari. Baru pada abad ke-6, masa Pra-Paskah dimulai sejak hari Rabu (baru disebut sebagai “Rabu Abu” pada abad  ke-13. Ingat: Gereja pecah menjadi Protestan dan Katolik pada abad ke-16  atau tahun 1517).

Angka 40 diambil dari beberapa kisah Alkitab, yaitu sebagai lambang masapengujian dan persiapan. 40 hari lamanya Musa berada di Gunung Sinai (Kel 34:28); 40 tahun lamanya umat Israel di padang gurun; 40 hari penduduk Niniwe berpuasa menyesali dosa (Yun 3:1-10); 40 hari Tuhan Yesus berpuasa sebelum memulai karya-Nya (Mat 4:2). Berdasarkan kisah-kisah tersebut,  Gereja  menyusun  masa persiapan Paskah.

Rabu Abu menjadi hari pertama pembukaan masa Pra-Paskah, masa di mana kita diajak untuk menghayati makna pertobatan, introspeksi diri, pendekatan diri kepada Tuhan, dan berpuasa. Penggunaan abu sebagai lambang dari kefanaan manusia (Kej 3:19; 18:27), penyesalan dan pertobatan (Yos 7:6; 2 Sam 13:19; Est 4:3;Ayub 2:12; Yes 58:5-7; Yeh 27:30; Dan 9:3; Yun 3:6; bnd. Yl 2:12-13; Mrk 1:15) berangsur-angsur baru terjadi pada akhir abad ke-11  hingga ke-13 dan terbatas sebagai ritus/ibadah.

APA ITU RABU ABU? 

Rabu Abu adalah permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa pertobatan, pemeriksaan batin dan berpantang guna mempersiapkan diri untuk Kebangkitan Kristus dan Penebusan dosa kita.

Mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening kita? Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus,  abu telah menjadi tanda tobat. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan  ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya,  diselubungkannya kain kabung,  lalu duduklah  ia di abu. (Yunus 3:6).  Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4C:13). Bapa Pius Parsch, dalam bukunya “The Church’s Year of Grace” menyatakan  bahwa “Rabu Abu Pertama” terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari  debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam atau diakon membubuhkan abu pada dahi kita sambil berkata: “Ingatlah, kita  ini abu dan akan kembali menjadi abu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”.

Dalam upacara kuno, orang-orang Kristen yang melakukan  dosa berat diwajibkan untuk menyatakan tobat mereka di hadapan umum. PadaHari Rabu Abu, Uskup memberkati kain kabung yang harus mereka kenakan selama empat puluh hari serta menaburi mereka dengan abu. Kemudian sementara umat mendaraskan Tujuh Mazmur Tobat, orang-orang yang berdosa berat itu diusir dari gereja, sama seperti Adam yang diusir dari Taman Eden karena ketidaktaatannya. Mereka tidak diperkenankan masuk gereja sampai Hari Kamis Putih setelah mereka memperoleh rekonsiliasi dengan bertobat sungguh-sungguh  selama empat puluh hari. Sesudah itu semua umat, baik umum maupun mereka yang baru saja memperoleh rekonsiliasi, bersama-sama mengikuti ibadah  untuk menerima abu.

Sekarang semua umat menerima abu pada Hari Rabu Abu. Yaitu sebagai tanda untuk mengingatkan kita untuk bertobat, tanda akan ketidakabadian dunia, dan tanda bahwa satu-satunya Keselamatan ialah dari Tuhan Allah kita.

APA ITU MASA PRA-PASKAH? 

Masa Prapaskah adalah masa pertumbuhan jiwa kita. Kadang-kadang jiwa kita mengalami masa-masa kering  di mana  Tuhan terasa amat jauh. Masa Prapaskah akan mengubah jiwa kita yang kering itu. Masa Prapaskah juga membantu kita untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk seperti mementingkan diri sendiri dan suka marah.

Banyak orang mengikuti retret setiap tahun. Retret itu semacam penyegaran jiwa. Kita membebaskan diri dari segala beban dan segala rutinitas sehari-hari. Tujuannya agar kita dapat  meluangkan waktu untuk memikirkan dan mendengarkan Tuhan. Kita boleh menganggap Masa Prapaskah sebagai suatu Retret Agung selama 40 hari. Yaitu saat untuk mengusir semua kekhawatiran dan ketakutan kita supaya kita dapatmemusatkan diri pada Sahabat kita dan mempererat hubungan kita dengan-Nya.  Sahabat itu, tentu saja, adalah Tuhan.  Kita dapat mempererat hubungan kita dengan-Nya dengan berbicara kepada-Nya dan mendengarkan-Nya. Cara lain yang juga baik adalah dengan  membaca bagaimana orang lain membangun persahabatan dengan Tuhan di masa silam.

Akhirnya, hanya ada dua kata untuk menyimpulkan apa itu Masa Prapaskah, yaitu: “NIAT” dan “USAHA”. Misalnya saja kita berniat untuk lebih mengasihi sesama, kita juga berniat untuk tidak lagi menyakiti hati sesama. Salah satu alasan mengapa kita gagal memenuhi niat kita itu adalah karena kita kurang berusaha. Kitab Suci mengatakan “roh memangpenurut, tetapi daging lemah”. Di sinilah peran Masa Prapaskah, yaitu membangun karakter yang kuat. Kita berusaha untuk menguasai tubuh dan pikiran kita dengan berlatih menguasai diri dalam hal-hal kecil. Oleh karena itulah kita melakukan silih selama Masa Prapaskah. Kita berpantang permen atau rokok atau pun pantang menonton program TV yang paling kita sukai. Dengan berpantang kita belajar mengendalikan diri. Jika kita telah mampu menguasai diri dalam hal-hal kecil, kita dapat meningkatkannya pada hal-hal yang lebih serius.

Berlatih menguasai diri baru sebagian dari usaha. Tidaklah cukup hanya berhenti melakukan suatu kebiasaan buruk, tetapi kita juga harus memulai suatu kebiasaan baik untuk menggantikan kebiasaan buruk kita itu. Misalnya saja membaca Kitab Suci setiap hari dan berdoa secara teratur. Jadi jangan hanya duduk diam saja, LAKUKAN SESUATU. Mulailah Hari Rabu Abu dengan menerima abu yang telah diberkati, lalu kemudian  memulai hidup baru bagi jiwa kita!

MENGAPA MASA PRAPASKAH BERLANGSUNG SELAMA 40 HARI?

 Pada awalnya, empat puluh hari masa tobat dihitung dari hari Sabtu sore menjelang Hari Minggu Prapaskah I sampai dengan peringatan PerjamuanMalam Terakhir pada hari Kamis Putih; sesudah itu dimulailah Misteri Paskah. Sekarang, Masa Prapaskah terbagi atas dua bagian. Pertama, empat hari dari Hari Rabu Abu sampai Hari Minggu Pra-paskah I. Kedua, tiga puluh enam hari sesudahnya sampai Hari Minggu Palma. Masa Prapaskah bagian kedua adalah masa Mengenang Sengsara Tuhan.

Makna empat puluh hari dapat ditelusuri dari kisah Musa yang sebagai wakil Hukum (Taurat) dan Elia yang sebagai wakil Nabi. Musa berbicara dengan Tuhan di gunung Sinai dan Elia berbicara dengan Tuhan di gunung Horeb, setelah mereka menyucikan diri dengan berpuasa selama empat puluh hari (Keluaran 24:18, IRaja-raja 19:8).  Setelah dibaptis, Tuhan Yesus mempersiapkan diri untuk tampil di hadapan umum juga dengan berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun. Di sana Ia dicobai setan dengan serangan pertamanya yaitu rasa lapar. Serangan yang sama digunakannya juga untuk mencobai kita agar kita gagal berpantang dan berpuasa dengan godaan keinginan daging. Kemudian setan berusaha membujuk Yesus untuk menjatuhkan diri-Nya agar malaikat-malaikat dari surga datang untuk menatang-Nya. Setan mencobai kita juga dengan kesombongan, padahal kesombongan sangat berlawanan dengan semangat doa dan meditasi yang dikehendaki Tuhan. Untuk ketiga kalinya Setan berusaha membujuk Yesus dengan janji akan menjadikan Yesus sebagai penguasa jagad raya. Setan mencobai kita dengan keserakahan serta ketamakan harta benda duniawi, padahal Tuhan menghendaki kita beramal kasih dan menolong sesama kita.

Selama Masa Prapaskah selayaknya kita hidup sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran. (Efesus 5:8-9).

MENGAPA KITA BERPUASA?

  1. Berpuasa mempertajam mata rohani kita – membantu kita melihat apa yang Tuhan lihat.
  2. Berpuasa berarti semakin serupa dengan Kristus, yang sering kali berpuasa.
  3. Berpuasa adalah cara yang baik guna mengingatkan kita untuk berdoa, sebagai ganti makan.
  4. Berpuasa membantu kita mengurangi berat badan dan merasa tetap bugar.
  5. Berpuasa berarti menghemat uang (membeli lebih sedikit makanan!)
  6. Berpuasa berarti menghemat waktu (melewatkan waktu makan!) di mana semua orang serba sibuk dan tidak punya waktu luang.
  7. Berpuasa membuat kita merasa bahagia (jika kita melewatkan hari puasa dengan berhasil.)
  8. Berpuasa meningkatkan rasa disiplin diri sehingga kita dapat berbuat lebih banyak kebaikan kepada sesama.

BAGAIMANA DENGAN SAUDARA? 

Sebentar lagi kita akan memasuki masa Pra-Paskah dan Paskah. Diawali dengan ibadah Ibadah Rabu Abu, pada hari Rabu tanggal 10 Pebruari  2016. Kita memasuki masa Prapaskah untuk menghayati akan kefanaan kita danmenghayati pengorbanan Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Bagaimanakahsaudara akan mengambil sikap dalam menyambut masa prapaskah tahun ini?

Kiranya Tuhan menolong kita. AMIN. (yaw – dari berbagai sumber)